Detik-detik Dramatis Menuju Kemerdekaan

Detik-detik Dramatis Menuju Kemerdekaan

1335
0
SHARE

BUCNasional, Bekasiurbancity.com – Tanggal 14 agustus 1945 Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita kekalahan Jepang ini masih dirahasiakan oleh jepang sendiri. Namun berita ini sampai kepada ketua pergerakan dan pemuda Indonesia lewat siaran luar negeri pada tanggal 15 agustus 1945.

Syahrir dan kawan-kawan yang bekerja di bawah tanah, termasuk orang yang paling dulu tahu menyerahnya Jepang. Mereka menyebarluaskan berita tersebut dengan berbisik-bisik. Syahrir kemudian menyampaikan berita ke pa da Bung Hatta. Kemudian, mereka berdua pergi ke kediaman Bung Karno di Jalan Pe gangsaan Timur 56 (kini Jl Proklamasi). Syahrir mendesak kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan. Soekarno dan Hatta tidak setuju dengan alasan bahwa proklamasi harus dirapatkan terlebih dahulu dalam rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Keesokan harinya (15 Agustus 1945) di Jakarta terjadi suasana sangat tegang dan penuh kesibukan. Makin santer terdengar menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Tidak ada keterangan resmi dari militer Jepang dan mereka menutup-nutupi. Golongan muda yang berjiwa dinamis dan revolusioner berpendapat kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan. Jika perlu, saat itu juga. Mereka menilai, PPKI adalah buatan Jepang. Proklamasi kemerdekaan harus lepas dari pengaruh Jepang.

Sehingga pada malam hari tanggal 15 Agustus 1945 Soekarno mengadakan rapat dengan para anggota PPKI. Hasil rapat disampaikan oleh Darwis dan Wikana yaitu mendesak agar Soekarno-Hatta memutuskan ikatan dengan Jepang. Muncul suasana tegang sebab Soekarno-Hatta tidak menyetujuinya. Namun golongan muda tetap mendesak agar tanggal 16 Agustus 1945 diproklamasikan kemerdekaan. Prinsip golongan tua menekankan masih perlunya diadakan rapat PPKI.

Golongan tua, termasuk Bung Karno dan Bung Hatta, berpendapat sebaiknya kemerdekaan Indonesia dicapai jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Sebaliknya, kelompok muda mendesak kemerdekaan segera diproklamasikan. Hari itu juga (15 Agustus), Bung Karno, Bung Hatta, dan Mr Ahmad Subardjo pergi ke kantor Guisekan (kini menjadi kantor pusat Pertamina) di Jalan Perwira. Kedatangan itu untuk mengecek sampai dimana kebenaran berita yang dibawa oleh Syahrir. Mereka gagal menemui Guisekan dan tidak berhasil menemui seorang pejabat Jepang yang berwenang. Siangnya mereka pergi ke kantor Laksamana Maeda, di Jl Merdeka Utara (kini Markas Besar Angkatan Darat). Laksamana Maeda juga tidak dapat menjelaskan berita tentang kekalahan Jepang. Pada 15 Agustus 1945 pukul 20.00 di salah satu ruangan Lembaga Bacteriologi di Jl Pegangsaan Timur 17, para pemuda mengadakan pertemuan dipimpin Chairul Saleh, tokoh pemuda. Diputuskan, Wikana dan Darwis yang akan menyam paikan keputusan itu.

Kedua orang utusan pemuda ini tiba di kediaman Bung Karno pada pukul 22.30. Mereka menuntut Bung Karno mengumumkan proklamasi ke merdekaan keesokan hari (16 Agustus 1945). Bung Karno menolak tuntan itu karena tidak mau meninggalkan PPKI. Lalu, Wikana mengancam jika Bung Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, esok hari akan terjadi pertumpahan darah. Lalu, terjadi ketegangan antara utusan pemuda dengan Bung Karno, disaksikan Bung Hatta dan beberapa tokoh tua lainnya. Mendengar ancaman Wikana itu, Bung Karno naik pitam dan menantang Wikana: ‘’Ini batang leherku. Potonglah leherku malam ini juga.’’ Keduanya kemudian melaporkan hasil pertemuannya dengan Bung Karno. Keesokan harinya (16 Agustus 1945), pagi-pagi sekali waktu sahur (kira-kira pukul 04.00), Bung Karno dan Bung Hatta diculik ke Rengasdengklok, tidak jauh dari Karawang.

Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta membuat suasana Kota Jakarta gempar. Orang bertanya-tanya di mana kedua pemimpin bangsa itu berada. Akhirnya, Wikana memberitahukan Mr Ahmad Subardjo akan keberadaan kedua tokoh nasional itu. Kira-kira pukul 18.00 rombongan Mr Ahmad Subardjo tiba di Rengasdenglok. Kemudian, disepakati proklamasi kemerdekaan akan diproklamasikan selekas mungkin. Maka, kembalilah rombongan Bung Karno di Jakarta pukul 23.00 malam. Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya mengambil ke simpulan mereka tidak boleh menggantungkan diri pada pihak lain. Namun, keduanya mengharapkan agar pihak Jepang tidak menghalang-halangi atau berusaha menggagalkan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan RI.

Naskah proklamasi kemerdekaan teksnya dibuat di kediaman Laksamana Maeda di Jalan Iman Bonjol No 1, Menteng. Laksamana Maeda mempersilakan kediamannya dijadikan sebagai tempat membuat naskah proklamasi kemerdekaan. Teks proklamasi dibuat pada 17 Agustus dini hari. Naskah atau teks proklamasi ditulis di atas sehelai kertas oleh Bung Karno sendiri. Sedangkan, Bung Hatta dan Mr Ahmad Subardjo menyumbangkan pikiran secara lisan.

Bung Karno dan Bung Hatta menyarankan agar para hadirin bersama-sama menandatanganinya. Atas usul Chaerul Saleh, disepakati teks proklamasi kemerdekaan ditanda tangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Isi teks proklamasi diketik oleh Sayuti Melik. Proklamasi Kemerdekaan dilakukan pada 17 Agustus 1945 di ke diaman Bung Karno. Namun, banyak pula pemuda, terutama dari Barisan Pelopor, yang datang ke Lapangan Ikada (Monas) karena mengira di tempat inilah proklamasi akan dikumandangkan.

Akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno. Setelah itu dilanjutkan oleh pengibaran bendera merah putih yang dijahit oleh istri Ir. Soekarno, Ibu Fatmawati. Lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R Supratman dinyanyikan bersamaan dengan pengibaran bendera merah-putih. Bendera Indonesia yang berwarna merah-putih memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan raga manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan jiwa dan raga manusia untuk membangun Indonesia.

Setelah itu berita tentang proklamasi menyebar luas ke seluruh Jakarta. Para wartawan dan pemuda ikut menyebarluaskan berita proklamasi melalui radio, poster, surat kabar, selebaran, dan mulut ke mulut. Hingga pada akhirnya berita ini menyebar ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Dua tahun kemudian, Indonesia mendapatkan pengakuan dari negara, contohnya Mesir, Libanon, Syria, Afganistan, Birma, Saudia Arabia, Yaman, Rusia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY