Arya Permana, Kisah Bocah 10 Tahun Dengan Bobot Tubuh 190 Kg

1525
0
SHARE

BUCTV, Bekasiurbancity.com – Normalnya, anak laki-laki berusia 10 tahun memiliki berat badan sekitar 30 kilogram (kg). Namun, bobot  Aria Permana kini mencapai 140 kg.

Buah cinta pasangan Ade Somantri (42) dan Rokayah (37) tersebut sulit bergerak. Sang juara kelas itu kini sudah tidak sekolah karena kesulitan berjalan.

Bobot tubuh Arya Permana (10 tahun) bocah asal Kampung Pasir Pining RT002/001 Desa Cipurwasari Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat saat ini mencapai 190 kg.

Arya selama ini memiliki pola makan yang berlebih dengan analisa, mampu mengkomsumsi 6.500 kalori setiap. Seharusnya, diusianya itu, hanya membutuhkan asupan 2.300 kalori per hari.

“Arya kerap mengkonsumsi makanan dan minuman instan secara berlebihan. Setiap hari Arya makan 5 kali sebanyak 2 porsi” ujar Ade ayah Arya.

Dengan kondisi tubuh saat ini Arya hanya sanggup berjalan sejauh 20 meter. Ian juga kesulitan dalam berdiri, berjalan dan berpakaian sendiri. Tidurnya pun harus dalam posisi terkelungkup.

Setahun belakangan Arya mengeluh kesulitan bernapas, saat ini Arya dalam penanganan dan perawatan team dokter Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat.

Agar keluhan sesak napasnya berkurang, Arya sering memilih posisi tengkurap dengan posisi kepala bersandar di tembok saat tidur. Namun akibat posisi tidur ini, dahinya jadi menghitam lantaran sering bersentuhan dengan tembok.

Selain tidur dan bermain gadget, Arya juga biasanya hanya berendam di kolam kecil yang ada di depan rumahnnya. Melihat kondisi ini, Rokayah tentu saja semakin khawatir dengan anaknya itu.

Ia sama sekali tak menyangka anaknya itu bakal mengalami peningkatan berat badan yang begitu cepat.

Tanggapan Dari Dokter Spesialis 

Dokter spesialis anak National Hospital Surabaya dr Achmad Yuniari Heryana SpA menganjurkan Aria dibawa ke dokter anak konsultan gizi dan penyakit metabolis atau ahli endokrin.

Hal itu ditujukan untuk mencari penyebabnya. ’’Sebabnya itu bisa jadi kelainan genetis, hormonal, atau kondisi sebelumnya,’’ kata dokter yang akrab disapa Boy tersebut.

Dengan kondisi Aria yang mudah lelah, Boy menduga ada masalah pada jantungnya. Bisa jadi sudah pada tahap gagal jantung. Selain masalah jantung, menurut dia, obesitas berisiko menimbulkan penyakit lain. ’’Bisa diabetes melitus tipe dua, hipertensi, batu empedu, dan hiperkolesterolemia,’’ tambahnya.

Dokter Irma Lestari Paramastuty SpA Mbiomed juga mendukung pernyataan Boy. Pola hidup yang buruk, menurut dia, bisa menjadi penyebabnya.

Asupan lebih banyak daripada pengeluaran kalori. ’’Sering nonton televisi atau main game, lalu makannya banyak. Akhirnya gendut,’’ ujarnya.

Untuk membantu mengurangi berat badan Aria, Irma menyarankan untuk mengubah gaya hidup. Anak bisa melakukan diet. Namun, diet pada anak harus disertai konsultasi ahli gizi. Sebab, diet anak berbeda dengan diet orang dewasa.

’’Ingat, anak masih tumbuh,’’ tutur dokter yang berpraktik di RSK St Vincentius A Paulo (RKZ) Surabaya itu. Keluarga pun harus mendukung. Caranya, memberikan contoh hidup sehat.

Aria yang hanya bisa beraktivitas di tempat tidur pun tetap harus melakukan gerakan. Adanya bantuan fisioterapi akan jauh lebih baik. Gerakan bisa membantu tubuh Aria melakukan pembakaran. Diharapkan, bobot Aria bisa turun. Setelah bisa meninggalkan tempat tidur, Aria disarankan untuk melakukan olahraga ringan.

Kegemukan bisa juga terjadi karena faktor keturunan. Nah, Irma memberikan tip bagi keluarga yang mempunyai potensi keturunan gemuk, yakni pemberian air susu ibu (ASI).

ASI bisa mematikan kromosom yang membuat anak berpotensi gemuk. ’’Anak ASI itu biasanya tidak obesitas,’’ tuturnya.

NO COMMENTS

Comments are closed.